Dari Pulau Penyalai, Jeritan Madrasah 3T yang Bertahan di Tengah Minim Perhatian: Hidup Enggan Mati tak Mau Sabtu, 25/07/2026 | 15:08
Salah sstu madrasah di daerah tertinggal Pulau Penyalai Kabupaten Pelayanan
SULUHRIAU, Pelalawan– Di balik hamparan perairan dan akses transportasi yang tidak mudah menuju Pulau Penyalai, Kecamatan Kuala Kampar, Kabupaten Pelalaqan berdiri sejumlah madrasah yang hingga kini masih setia menjalankan misi pendidikan.
Di tengah keterbatasan fasilitas, minimnya tenaga pendidik, dan berkurangnya dukungan operasional, para guru serta pengelola yayasan terus berupaya mempertahankan keberadaan lembaga pendidikan Islam yang menjadi harapan masyarakat di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).
Potret tersebut menjadi perhatian saat Kepala Seksi Pendidikan Islam Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pelalawan, Abdul Wahid, bersama tim Seksi Pendidikan Islam melakukan kunjungan kerja ke sejumlah madrasah dan pondok pesantren di Pulau Penyalai selama 22–24 Juli 2026.
Kunjungan diawali dengan silaturahmi bersama Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pelalawan yang berdialog dengan para guru madrasah, pondok pesantren, serta guru Pendidikan Agama Islam (PAI).
Memasuki hari kedua, tim turun langsung meninjau proses belajar mengajar sekaligus melihat kondisi sarana dan prasarana pendidikan di lapangan.
Lokasi pertama yang dikunjungi adalah SMP Negeri 1 Kuala Kampar. Di sekolah tersebut, tim bertemu dengan guru Pendidikan Agama Islam yang juga dipercaya mengemban tugas sebagai kepala sekolah.
Dalam dialog tersebut, para guru menyampaikan apresiasi atas perhatian yang selama ini diberikan Kementerian Agama.
Mereka berharap ke depan tersedia lebih banyak program peningkatan kompetensi bagi guru agama, termasuk pelatihan dan sertifikasi yang dapat menunjang profesionalisme tenaga pendidik.
Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju Madrasah Tsanawiyah (MTs) Teluk Dalam yang berada di bawah naungan Yayasan Hikmah Bersama.
Rombongan disambut Kepala Madrasah Sapri, Ketua Yayasan Muhammad Ali, serta para guru yang sehari-hari mengajar di madrasah tersebut.
Bangunan madrasah tampak mulai dimakan usia. Sejumlah bagian gedung terlihat lapuk, sementara perabot yang digunakan juga sudah tua. Kondisi itu menjadi gambaran nyata keterbatasan yang mereka hadapi dalam menjalankan aktivitas pendidikan.
"Terima kasih sudah datang mengunjungi kami di daerah yang jauh ini. Inilah kondisi madrasah kami saat ini," ujar Sapri saat menyambut rombongan.
Dalam pertemuan itu, para guru dan pengurus yayasan menyampaikan berbagai persoalan yang mereka alami. Salah satu tantangan terbesar adalah berkurangnya tenaga pendidik setelah guru honorer yang sebelumnya ditempatkan di madrasah tidak lagi mendapatkan penugasan.
Menurut pihak madrasah, sebelum adanya kebijakan efisiensi anggaran, sejumlah guru honorer dari pemerintah daerah masih mengajar di madrasah. Namun dalam dua tahun terakhir, sebagian besar telah ditarik untuk mengisi kebutuhan sekolah negeri.
Akibatnya, beban mengajar semakin berat karena jumlah tenaga pendidik terus berkurang, sementara kebutuhan layanan pendidikan tetap harus dipenuhi.
Ketua Yayasan Hikmah Bersama, Muhammad Ali, mengaku mempertahankan keberadaan madrasah bukan perkara mudah. Bahkan, demi menjaga agar lembaga pendidikan itu tetap berjalan, ia rela mengorbankan kesempatan menjadi guru PPPK di sekolah negeri.
Baginya, keberadaan madrasah bukan sekadar tempat belajar, tetapi benteng pendidikan agama bagi generasi muda di kawasan pesisir.
"Madrasah ini merupakan salah satu yang tertua di Kabupaten Pelalawan. Namun hingga kini perhatian yang kami harapkan, baik dari pemerintah maupun instansi terkait, masih sangat terbatas. Kami tetap bertahan karena ingin anak-anak di daerah ini memperoleh pendidikan agama yang layak," ungkapnya.
Ia berharap ada langkah nyata untuk memperkuat keberlangsungan madrasah, mulai dari dukungan tenaga pendidik, perbaikan sarana belajar, hingga bantuan operasional agar aktivitas pendidikan dapat terus berjalan.
Kondisi serupa juga ditemui di MA Al Anwar Al Armansyah yang berada di bawah Yayasan Kuala Bersatu. Ketua yayasan yang juga menjabat sebagai kepala madrasah, Roslan, mengungkapkan tantangan yang dihadapi tidak jauh berbeda.
Menurutnya, mempertahankan madrasah di wilayah terpencil ibarat menghadapi dilema. Di satu sisi lembaga pendidikan harus tetap berjalan, namun di sisi lain keterbatasan sumber daya membuat pengelola harus berjuang ekstra agar aktivitas belajar tidak terhenti.
Jumlah guru yang terus berkurang menjadi persoalan utama. Banyak tenaga pendidik memilih kembali mengajar di sekolah negeri karena adanya kepastian penghasilan yang lebih baik dibandingkan bertahan di madrasah swasta.
Kondisi tersebut dikhawatirkan akan berdampak terhadap kualitas layanan pendidikan apabila tidak segera mendapat perhatian.
Kunjungan tim Pendidikan Islam Kementerian Agama Kabupaten Pelalawan menjadi momentum untuk melihat langsung realitas pendidikan di kawasan 3T.
Selain menyerap aspirasi para guru dan pengelola yayasan, hasil kunjungan tersebut diharapkan menjadi bahan evaluasi dalam merumuskan langkah pembinaan serta penguatan madrasah di wilayah terpencil.
Di tengah segala keterbatasan, semangat para guru di Pulau Penyalai tetap menyala. Mereka terus mengajar dengan harapan anak-anak di kawasan pesisir memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan berkualitas sekaligus memperkuat nilai-nilai keagamaan sebagai bekal masa depan.
Catatan Kunjungan Kasi Pendidikan Islam Kantor Kemenag Pelalawan, Abdul Wahid