Setelah Kecelakaan Maut di Tol Permai, Pengemudi Mengantuk Kini Jadi Perhatian Serius PJR Minggu, 14/06/2026 | 13:08
SULUHRIAU, Dumai– Kecelakaan beruntun yang merenggut korban jiwa di Jalan Tol Pekanbaru-Dumai (Permai) beberapa waktu lalu kembali mengingatkan bahaya yang sering dianggap sepele oleh pengendara jarak jauh, kelelahan saat mengemudi.
Meski kendaraan dalam kondisi baik dan jalan relatif lengang, rasa kantuk yang datang hanya dalam hitungan detik dapat berujung pada kecelakaan fatal.
Kondisi itulah yang mendorong PT Hutama Karya (HK) bersama Petugas Patroli Jalan Raya (PJR) Polda Riau dan Satlantas Polres Siak turun langsung ke Tol Permai menggelar Operasi Mikrosleep di KM 45, Sabtu (13/6/2026) dini hari.
Operasi tersebut tidak berfokus pada penindakan, melainkan upaya mendeteksi lebih awal kondisi pengemudi yang berpotensi mengalami microsleep atau tidur sesaat saat berkendara.
Fenomena ini menjadi salah satu penyebab utama kecelakaan di jalan tol karena sering terjadi tanpa disadari oleh pengemudi.
Section Head Operasi Regional Sumbagteng PT Hutama Karya, Yoni Satyo, mengatakan keselamatan pengguna jalan menjadi perhatian utama menyusul sejumlah kecelakaan yang terjadi di ruas tol tersebut.
"Malam ini kita melakukan operasi mikrosleep, dimana ini merupakan salah satu upaya PT Hutama Karya sebagai pengelola jalan tol untuk menekan angka kecelakaan yang terjadi di jalan bebas hambatan," kata Yoni.
Dalam kegiatan itu, petugas menghentikan sejumlah kendaraan secara acak untuk melakukan survei singkat terkait kondisi fisik pengemudi.
Petugas menanyakan lama perjalanan, waktu istirahat terakhir, hingga kondisi tubuh pengendara sebelum melanjutkan perjalanan.
Langkah sederhana tersebut dinilai penting karena banyak pengemudi yang merasa masih sanggup mengemudi, padahal tubuh mereka sebenarnya sudah mengalami kelelahan.
"Pada operasi mikrosleep ini kami mengajukan sejumlah pertanyaan kepada pengendara sebagai survei, apakah mereka masih fit atau sudah dalam kondisi lelah saat berkendara," ujarnya.
Selain memberikan edukasi, petugas juga membagikan kopi dan makanan ringan kepada pengemudi yang melintas sebagai pengingat pentingnya menjaga konsentrasi selama perjalanan.
Tak hanya itu, PT Hutama Karya bersama kepolisian juga melakukan pemeriksaan lampu kendaraan dalam Operasi Lampu Belakang.
Pengecekan dilakukan untuk memastikan seluruh kendaraan yang melintas memiliki sistem penerangan yang berfungsi dengan baik, terutama pada malam hari ketika jarak pandang pengemudi terbatas.
"Kami melakukan pengecekan terhadap lampu kendaraan, baik lampu depan maupun belakang. Semua kendaraan wajib memiliki penerangan yang baik demi keselamatan bersama," jelas Yoni.
Kasatlantas Polres Siak AKP Denny Maulana Syahputra mengatakan kecelakaan di jalan tol sebagian besar masih dipicu faktor manusia, terutama kelelahan dan kurangnya waktu istirahat.
Ia mengimbau pengendara tidak memaksakan diri melanjutkan perjalanan apabila kondisi tubuh sudah tidak prima.
"Kami mengimbau kepada seluruh pengendara agar terus berhati-hati, menyiapkan fisik yang prima dan memastikan kendaraan layak jalan. Jika merasa lelah, segera beristirahat di rest area yang telah disediakan di jalan tol," katanya.
Menurut Denny, hasil evaluasi terhadap kecelakaan maut yang terjadi sebelumnya menunjukkan indikasi kuat adanya faktor kelelahan pengemudi.
Korban diketahui melakukan perjalanan jauh dari Provinsi Jambi dengan waktu istirahat yang sangat minim dibandingkan durasi perjalanan yang ditempuh.
"Dari hasil informasi yang kami terima, korban sebelumnya melakukan perjalanan dari Provinsi Jambi. Mereka hanya beristirahat sekitar dua jam dari total perjalanan selama kurang lebih 18 jam," ungkapnya.
Kondisi tersebut sangat rentan memicu microsleep, yakni kondisi ketika seseorang tertidur dalam waktu sangat singkat tanpa disadari. Meski hanya berlangsung beberapa detik, akibatnya bisa sangat fatal ketika terjadi di balik kemudi kendaraan yang melaju dengan kecepatan tinggi.
Karena itu, kepolisian kembali mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap sepele rasa lelah saat berkendara.
Sebab di jalan tol, bukan hanya kecepatan yang menjadi ancaman, tetapi juga satu detik kehilangan konsentrasi yang dapat mengubah perjalanan biasa menjadi tragedi. (src)