☰ Sosial Budaya Kolom Amboi, Indahnya Melaka Riverside Senin, 07/01/2019 | 09:20
JIKA kita pernah ke Melaka, Malaysia, rasanya tak mungkin kalau tidak sampai ke sungai Melaka. Di salah satu sisi tepi sungai yang membelah Kota Melaka itu, besar sekali nampak tulisan berwarna putih: #i@sungaimelaka.
Akhir tahun 2018. Saya dan rekan sempat lewat, singgah dan berjalan santai di sepanjang sungai ini. Banyak cerita dari sini.
Sungai Melaka ini muaranya langsung ke laut. Selat Melaka. Maka tak heran, pasang surut air sungai ini juga bergantung pada pasang surut air laut. Bahkan warna airnya pun identik dengan warna air laut. Kalau sepintas dilihat dari permukaan, sungai ini tak begitu dalam. Tapi, bisa dilayari oleh ferry dan perahu motor.
Salah satu transportasi wisata yang terkenal dan setiap hari lalu-lalang di sungai ini, adalah 'Melaka River Cruise'. Keren ya namanya. Ini adalah perahu wisata, terbuat dari fiber dan bermesin seperti sampan (boat) pada umumnya. Hanya satu mesin yang terpasang di perahu. Sebab tak dibenarkan juga perahu ini berjalan terlalu laju saat melewati sungai.
Jika berkesempatan naik, perahu akan mengajak kita berkeliling sejauh 9 kilometer. Banyak pemandangan indah selama perjalanan. Asyiknya kalau naik perahu ini di senja atau malam hari. Lampu yang berjejer sepanjang tepi sungai dan jembatan yang melintas di atas sungai, terlihat sangat indah.
Melihat aktifitas dan kesibukan di sungai Melaka, pikiran saya melayang ke Bangkinang dan Kota Pekanbaru. Kampung saya juga punya sumberdaya alam, sungai seperti ini. Malah lebih bagus dan alami pemandangannya. Tapi, indahnya sungai Melaka, kenapa tidak bisa ditiru dan dibuat di sungai Kampar, Bangkinang dan sungai Siak di Pekanbaru. Apalagi sungai Siak. Di sini juga banyak sejarah yang bisa digali. Seperti layaknya sungai Melaka.
Lama juga saya berpikir. Seingat saya, setiap kali ke Melaka, melewati Melaka Riverside, selalu saja ada yang baru. Tapi kenapa sungai di tempat saya tak bisa dibuat seindah ini? Saya berandai-andai: kalau saja bisa, berapa ramai wisatawan yang akan datang. Bisa jadi objek wisata baru, pastinya.
Tak hanya itu, income dari Sungai Melaka ini luar biasa banyak. Kita tak hanya dimanjakan dengan perahu Melaka River Cruise. Naiknya tentu tidak gratis. Tapi, juga bisa menikmati kuliner di sepanjang bibir sungai. Bermacam jenis kuliner ada di sini. Makanan dan minuman lokal, ada. Bagi turis mancanegara pun ada cafe-cafe khusus untuk berlibur melepas penat. Amboi, indah sekali. Asal ada ringgit, bisalah semua dirasa, hehehe.
Nah, di Pekanbaru. Pasti semua tahu, ada namanya Water Front City (WFC). Sebuah konsep pembangunan kota di tepi sungai Siak yang direncanakan indah dan menarik, untuk dijadikan salah satu tempat wisata. Rancangannya sangat menarik. Tapi, sayang hingga kini realisasi dari WFC baru sebatas membangun beberapa titik kawasan, namun belum bisa dikatakan indah secara menyeluruh. Apa tidak direncanakan? Sudah. Tapi, tak kunjung selesai-selesai pembangunannya. Alhasil, WFC baru sebatas sebutan nama yang belum bisa difungsikan maksimal.
Ada lagi di Bangkinang, Kampar. Awalnya dulu juga bernama WFC. Belakangan berganti nama menjadi Bangkinang Riverside. Penataan kawasannya sudah mulai bagus. Ada jembatan. Ada pula taman bermain. Bahkan ada tempat khusus buat foto-foto, bagi yang suka selfie. Sudah memadai-kah kawasan ini untuk kita jual ke wisatawan? Ini yang belum bisa dijawab. Masih perlu banyak pembenahan dan pembangunan di bagian-bagian sisi sungai agar terlihat indah dan memberikan kesan menyenangkan bagi siapa saja yang berkunjung.
Saya cerita dan gambarkan sedikit tentang sungai Melaka. Mudah-mudahan suatu saat kita punya yang seperti ini.
Alur sungai dan alirannya, kalau melihat peta yang dapat kita jumpai di beberapa titik sepanjang sungai, tak terlalu panjang. Itulah sebabnya, sepanjang tepi sungai Melaka ini, di kiri kanannya, dibangun pedestrian yang benar-benar indah. Ada beberapa jembatan kecil juga yang dibangun di atas sungai. Dan, banyak pula hotel dan penginapan serta cafe di sana. Makanya, berjalan di pedestrian sepanjang sungai Melaka, kita tak akan merasa jenuh.
Jika berjalan di pagi atau sore hari, kita pasti akan menemukan banyak turis lokal dan mancanegara yang berolahraga: lari pagi atau sore. Begitu sore tiba dan malam menjelang, gelap pun berangsur-angsur menggantikan cahaya siang, di sepanjang sungai Melaka kita tetap merasa nyaman. Banyak sekali lampu-lampu taman yang dipasang di jembatan dan tepi sungai. Indahnya sungai ini, kalau di siang hari, justru ternyata di senja dan malam hari lebih indah lagi.
Ya. Memanglah Melaka Riverside tak sesibuk tepi sungai yang ada di Bangkok, Thailand sana: namanya, Asiatique. Tapi, indahnya sungai Melaka sangat berbeda daya tariknya dengan Asiatique nun jauh di sana.
Saya berandai-andai: kalau saja sungai Siak dengan WFC-nya. Bangkinang, sungai Kampar dengan Bangkinang Riverside-nya, bisa seperti Melaka negeri jiran ini saja, alangkah senangnya hati. Saya pun tak perlu jauh-jauh lagi ke Melaka, Malaysia sana. Hehehe. **